WeLcOmE....
Semoga Artikel Ini Dapat Bermanfaat Bagi Anda...
Trimakasih...
Trimakasih...
Minggu, 07 April 2013
Antonius Blog: Skripsi CTL Matematika SD
Antonius Blog: Skripsi CTL Matematika SD: PENERAPAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN DI K...
Skripsi CTL Matematika SD
PENERAPAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING
(CTL)
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA
MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN
DI KELAS
IV SD BK TANAPOBUNTI
Slamet
Galih Maharani Soekarno, H. Sudarman, Hj. Akina
Program Studi
PGSD, Jurusan Ilmu Pendidikan,
Faklultas
Keguruan dan Ilmu Penddikan,
Universitas
Tadulako, Indonesia
Email: slametgalih@gmail.com
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan
penerapan CTL untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan
pecahan di kelas IV SD BK Tanapobunti. Bentuk pembelajaran dalam penelitian ini
menggunakan 3 kegiatan, yaitu: (1) kegiatan awal, (2) kegiatan inti, dan (3)
kegiatan akhir yang dilaksanakan dalam kelompok belajar.
Pada penelitian yang telah dilaksanakan, dapat
disimpulkan bahwa penerapan pendekatan CTL yang
dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan dengan
langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: 1) Guru melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa, 2) Guru membentuk kelompok belajar dan
memberikan masalah kontekstual melalui LKS kepada masing-masing kelompok, 3) Guru
memberikan model atau contoh soal kepada siswa dengan melibatkan siswa secara
penuh, 4) Guru
memfasilitasi siswa dalam mengerjakan soal LKS, 5) Guru melakukan tanya jawab
untuk mengetahui apa yang belum diketahui siswa, 6) Guru melakukan refleksi
terhadap aktivitas pembelajaran yang telah berlangsung, 7) Guru melakukan
penilaian melalui tes, dan 8) Guru bersama
siswa membuat kesimpulan terhadap pelajaran yang telah dipelajari.
Abstract
The purpose of this study is to
describe the application of CTL to improve student learning outcomes in the sum
of material fractions in fourth grade BK Tanapobunti. Form of learning in this
study using three activities, that is:
(1) initial activity, (2) core activities, and (3) the final activity
undertaken in the study group.
In studies that have been conducted,
it can be concluded that the implementation of CTL approach that can improve
student learning outcomes in the sum of material fractions with learning steps
as follows: 1) Teachers do apperception and communicate learning goals to
students, 2) Teachers form study groups and provide contextual issues through
worksheets to each group, 3) The teacher provides a model or sample questions
to students by involving students in full, 4) Teachers facilitate students
working on worksheets, 5) Teachers conduct debriefing to find out what the
student is not yet known, 6) Teachers reflect on their learning activities that
have taken place, 7) Teacher assessment through tests, and 8) Teachers with
students to make conclusions on the lessons that have been learned.
Keywords:
Contextual Teaching and Learning (CTL), Learning Outcomes, the Sum of Material Fractions
©2013 Universitas
Tadulako
I.
Pendahuluan
P
|
endidikan merupakan salah satu proses yang harus
dilalui oleh setiap individu. Pendidikan laksana eksperimen
yang tidak pernah selesai sampai kapanpun sepanjang ada
kehidupan manusia di dunia ini. Pendidikan bagian dari
kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang dan menuntut
perubahan untuk mencapai masyarakat madani. Berbagai upaya dan inovasi-inovasi
baru telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Proses pendidikan dapat berlangsung secara formal
maupun secara informal. Proses pendidikan secara formal merupakan pendidikan
yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini
mempunyai jenjang pendidikan yang jelas mulai dari pendidikan dasar, pendidikan
menengah, sampai pendidikan tinggi. Sedangkan proses pendidikan informal adalah
jalur pendidikan yang dapat terjadi melalui peran keluarga dan lingkungan
dengan kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan
bertanggung jawab.
Dalam menempuh proses pendidikan di sekolah, siswa
wajib mengikuti beberapa mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang wajib
diikuti siswa adalah matematika, karena matematika adalah dasar dari beberapa
mata pelajaran yang ada di sekolah baik dari dasar, menengah, atas maupun di
perguruan tinggi. Salah
satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak,
sehingga menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika.
Hasil belajar matematika siswa, baik secara klasikal maupun individual belum
menggembirakan. Dalam pembelajaran matematika belum bermakna didalam benak
siswa, sehingga pengertian siswa tentang konsep matematika sangat lemah.
Hasil wawancara dan diskusi
antara peneliti dan guru kelas IV di SD BK (Bala Keselamatan) Tanapobunti
Kecamatan Sigi Biromaru, diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa pada
Mata Pelajaran Matematika masih rendah. Hasil belajar siswa menunjukkan
perolehan rata-rata yang masih setara dengan ketuntasan hasil belajar yang
diharapkan yaitu 60. Pada tahun 2009/2010 nilai rata-rata semester 1 dan
semester 2 adalah 62,31 dan 58,18 dengan nilai rata-rata per tahun 60,25.
Sedangkan pada tahun 2010/2011 nilai rata-rata semester 1 dan semester 2 yaitu
60,22 dan 61,10 dengan nilai rata-rata per tahun 60,66.
Berdasarkan hasil wawancara
dengan guru kelas IV SD BK Tanapobunti Kecamatan Sigi Biromaru ternyata hasil
belajar siswa yang paling rendah pada materi pecahan dengan materi pokok
penjumlahan pecahan. Siswa belum memahami konsep operasi penjumlahan pecahan
baik pecahan berpenyebut sama maupun pecahan berpenyebut beda. Akhirnya dengan
ketidakfahaman siswa tentang penjumlahan pecahan ini akan terbawa kejenjang
pendidikan selanjutnya. Padahal banyak aspek matematika yang berkaitan dengan
konsep dan operasi bilangan pecahan yang diperlukan dalam kehidupan nyata
maupun dalam pendidikan formal, oleh sebab itu konsep maupun opersi pecahan
penting untuk dikuasai siswa.
Faktor penyebab rendahnya hasil
belajar siswa disebabkan oleh guru kelas tersebut lebih cenderung aktif
dibandingkan siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Guru kelas tersebut
hanya memberikan demonstrasi, langsung dengan menggunakan rumus penjumlahan
pecahan pada soal-soal penjumlahan pecahan tanpa menggunakan benda nyata
sebagai media pembelajaran, karena dengan benda nyata dianggap membingungkan
siswa dan menyita banyak waktu dalam proses pembelajaran yang terjadi. Setelah
memberikan demonstrasi pada materi penjumlahan pecahan, siswa langsung
diberikan tugas sehingga siswa kurang dilibatkan dalam setiap pembelajaran yang
berlangsung dan akkhirnya siswa hanya diberikan
rumus yang harus dihafal dan diuji cobakan kesoal-soal latihan. Sehingga siswa
tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya
untuk mengungkapkan kreativitasnya didalam menemukan pengetahuan baru yang
dialami.
Lingkungan dan pengalaman
memiliki pengaruh yang besar dalam mendidik siswa. Johan Amos Comenius (dalam Yamin, 2009:8) mengatakan bahwa betapa besar
fungsi pengalaman untuk mengubah perilaku manusia. Pengetahuan yang didapat
oleh siswa diperoleh dari pengalaman-pengalamannya didalam lingkungan sebelum
siswa tersebut belajar secara formal
sehingga akan merubah cakrawala anak tersebut.
Pembelajaran yang dilaksanakan
dengan menekankan pada proses,
yang selalu melibatkan siswa secara penuh dan selalu menampilkan pembelajaran
secara nyata sesuai dengan pengalaman siswa, diharapkan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa serta mendorong siswa untuk menerapakannya didalam
kehidupan mereka. Pada dasarnya siswa Sekolah Dasar
memiliki taraf berfikir yang masih konkrit atau nyata dan memasuki tahap semi
konkrit atau berupa gambar karena tahap perkembangan siswa di sekolah dasar
pada dasarnya adalah tahap berfikir operasioanl
konkrit sehingga dengan menghadirkan benda atau contoh-contoh nyata yang
ada disekeliling siswa, siswa akan lebih paham tentang materi pembelajaran.
Oleh sebab itu untuk mengatasinya diperlukan suatu upaya perubahan pembelajaran
pada penjumlahan pecahan kearah yang yang lebih kontekstual (memenipulasi
benda-benda nyata), dengan demikian siswa diharapkan dapat menerapkan
matematika dalam kehidupan mereka.
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “bagaimana penerapan CTL
untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan di kelas
IV SD BK Tanapobunti?”. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan CTL dalam meningkatkan
hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan di kelas IV SD BK
Tanapobunti.
*( Maaf jika gambarnya tidak terlihat bahkan tidak ada gambar)
*( Maaf jika gambarnya tidak terlihat bahkan tidak ada gambar)
II. Kajian Pustaka
1.
Hasil Belajar
Belajar merupakan istilah
yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia sehari-hari, oleh sebab itu
seakan-akan orang telah mengetahui dengan sendirinya apakah maksud dari belajar
itu. Dipahami ataupun tidak dipahami, sesungguhnya sebagian aktivitas dalam
kehidupan sehari-hari merupakan kegiatan belajar. Dapat dikatakan bahawa tidak
ada ruang dan waktu serta batasan usia untuk dapat melepaskan dirinya dari
kegiatan belajar.
Teori belajar konstruktivisme (Tya, 2010) mendefinisikan sebagai
sebuah pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu sebuah tindakan yang
menciptakan suatu makna dari apa yang dipelajari. Dalam teori konstruktivisme lebih menekankan siswa untuk
lebih aktif dari pada seorang guru, guru hanya sebagi fasilitator dan motivator,
siswalah yang membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada
pengetahuannya sesuai dengan pengalamannya. Lebih lanjut Piaget (dalam Tya,
2010) mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, melainkan melalui tindakan. Burton (dalam
Aunurrahman, 2010:35)
menyatakan pengertian belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku pada diri
individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu
dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Tujuan belajar adalah untuk meningkatkan kemampuan baik kognitif, afektif,
maupun psikomotor. Kegiatan belajar mengajar tidak lagi sekedar menyampaikan
dan menerima informasi tetapi mengolah informasi sebagai masukan pada usaha
peningkatan kemampuan.
Edgar Dale (wikipedia,
2012) mengemukakan bahwa “belajar yang paling baik adalah belajar melalui
pengalaman langsung”. Sejalan dengan itu Hamalik (2009) menyatakan bahwa
belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Selain
itu, belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui
interaksi dengan lingkungannya. Dalam pandangan ini, kegiatan atau usaha yang
dilakukan untuk mencapai perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan suatu
proses belajar sedangkan perubahan tingkah laku untuk menjadi lebih baik itu
merupakan hasil dari belajar.
Berdasarkan pendapat di
atas dapat disimpulkan bahwa, belajar adalah proses yang dilakukan oleh
individu uuntuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman
individu itu sendiri untuk menjadi lebih baik. Hal ini sejalan dengan pendapat
John Dewey (Mukhlis, 2012) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan
baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan
kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya
Setiap orang yang
melakukan kegiatan proses belajar, tentu ada hasil belajar yang ingin
dicapai. Hal ini sejalan dengan pendapat
Dimyati dan Mudjiono (2002:36), hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkkan
dari suatu interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes
yang diberikan guru. Lebih lanjut Jean Jacques Rouseseau (Wikipedia, 2012)
menyatakan bahwa anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui
belajar anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan atau mengaktualkan
potensi-potensi tersebut. Untuk mengembangkan atau mengaktualkan
potensi-potensi tersebut dapat melalui Lembar Kerja Siswa (LKS). Hal ini
sejalan dengan Laghecong (Kompasiana, 2011) menyatakan bahwa keberadaan LKS
dalam proses pembelajaran tetap diperlukan terutama karena tujuan pembelajaran
sebenarnya adalah membangun kerangka keilmuan dari diri siswa itu sendiri.
Berdasarkan uraian di
atas, dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah
terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan
oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan. Hasil belajar tersebut dapat berupa proses
maupun pengalaman yang dilakukan secara individu ataupun kelompok. Seseorang telah melakukan
perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan dalam salah satu atau
beberapa aspek tingkah laku, pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan,
apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, sikap, etis atau budi pekerti
(Hamalik 2009:30).
2. Pendekatan
CTL
2.1. Pengertian
Contextual Teacing and Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual
merupakan terjemahan dari istilah Contextual
Teaching and Learning (CTL). Kata Contextual
berasal dari kata Contex yang berari
“hubungan, konteks, suasana, atau keadaan”. Sehingga Contextual
Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang
berhubungan dengan suasa atau keadaan tertentu. Dengan kata lain, CTL merupakan
suatu pembelajaran kontekstual yang diharapkan dapat membantu siswa dalam
memahami makna materi ajar yang disesuaikan dengan pengalaman nyata dikehidupan
sehari-harinya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menurut konsep CTL Ariani, dkk
(2009) menyatakan bahwa belajar akan lebih bermakna jika anak didik “mengalami” apa yang dipelajarinya,
bukan sekedar “mengetahui” apa yang
dipelajarinya. Depdiknas (2003:3)
“Pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilki dengan penerapan dalam
kehidupan mereka sehari-hari”. Center on
Education and Work at the University of Wisconsin Madison (2002 dalam Kusnandar
2007:296) menyatakan pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi belajar
mengajar yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia
nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan
aplikasinya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan
pekerja serta meminta ketekunan belajar.
Pembelajaran kontekstual
didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (Mukhlis, 2012) yang menyimpulkan
bahwa “siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan
apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di
sekelilingnya”. Pembalajaran kontekstual memberikan konsep belajar dimana guru
menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran yang diharapkan lebih
bermakna bagi siswa. Johnson (2002, dalam Kunandar 2007:295) pembelajaran
kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa
melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan
konteks lingkngan pribadinya, sosialnya, dan budayanya.
Elaine B. Johnson (2007
dalam Ariani, dkk, 2009) memberikan penjelasan bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah sistem belajar
yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila
mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima dan mereka
menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi
baru dengan pengetahuaan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.
2.2. Komponen
Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan pembelajaran CTL
memiliki 7 asas yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran yaitu
kontruktivisme, inkuiri, bertanya (Questioning),
kelompok belajar (Learning Community),
pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian nyata (Authentic Assessment) (Depdiknas,
2003:5). Seringkali asas-asas ini disebut sebagai komponen-komponen dalam CTL,
ketujuh asas ini akan dijelaskan sebagai berikut.
1.
Kontruktivisme,
diartikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya menekankan pada menghafal fakta
tapi dikembangkan kearah yang diajarkan.
2.
Inkuiri,
dimana proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui
proses berfikir kritis dan sistematis. Dalam konteks ini pengetahuan tidak
diartikan sebagai sejumlah fakta dari mengingat semata, tetapi diperoleh
melalui proses penemuan secara ilmiah. Kunandar (2007:309) menemukan atau inquiry merupakan bagian dari
pembelajaran berbasis kontekstual yang berpendapat bahwa pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
3.
Bertanya
(Questioning), dalam arti bahwa dalam
proses pembelajaran para peserta didik dirangsang untuk bertanya dan siap
menjawab pertanyaan dari guru atau dari sesama temannya. Kunandar (2007:310)
menyatakan bahwa bertanya dalam pembelajaran sebagai kegiatan guru untuk
mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.
4.
Kelompok
Belajar (Learning Community),
pembelajaran CTL dikembangkan dalam beberapa kelompok belajar dimana anggotanya
bersifat heterogen ada peserta didik yang pandai ada pula yang tidak pandai,
ada yang mampu belajar cepat ada pula yang gaya belajarnya lambat, ada yang
berfikir abstrak ada pula yang berfikir konkret dan sebagainya. Hal ini
dimaksudkan untuk pencapaiaan hasil belajar yang merata.
5.
Pemodelan
(Modeling), dalam arti bahwa proses
pembelajaran dilakukan dengan memperagakan model belajar, seperti guru
mempraktikkan bagaimana cara belajar yang baik dan bagaimana cara membaca cepat
dan lain sebagainya. Kunandar (2007:313) menyatakan bahwa dalam pembelajaran
kontekstual guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang dengan
melibatkan siswa.
6.
Refleksi
(Reflection), bahwa peserta didik
mengendapkan pengalaman belajarnya secara berurut kemudian merefleksi
pengalaman tersebut dan menyimpannya dalam struktur kognisi sebagai bagian tak
terpisahkan dari penguasaan pengetahuaan. Kunandar (2012:314) menyatakan
refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir
kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu.
7.
Penilaian
Nyata (Authentic Assessment), guru
melakukan penilaian secara nyata terhadap kemampuan dan perkembangan belajar
peserta dididk, apakah pengalaman belajarnya berpengaruh secara positif
terhadap proses kematangan kualitas dirinya atau tidak. Kunandar (2007:315)
menyatakan assessment adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar
siswa.
2.3. Peran
Guru dalam Pembelajaran CTL
Ada tiga hal yang harus
dipahami guru dalam
melakukan CTL, pertama CTL menekankan
kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi yang dipelajarinya,
artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Kedua, CTL mendorong siswa untuk dapat
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan pengalaman di lingkungan nyata. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan pengetahuannya
dalam kehidupan nyata, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa untuk dapat
memahami materi yang dipelajarinya akan tetapi bagaimana materi yang
dipelajarinya dapat mewarnai setiap perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan ketiga hal
tersebut dapat disimpulkan bahwa CTL lebih melibatkan siswa dalam proses
pembelajarnnya secara penuh dan nyata, yang mana dalam CTL tidak hanya
mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana
materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan nyata sehari-hari.
3. Pecahan
3.1. Pengertian
Pecahan
Bilangan pecahan atau
biasa disebut bilangan rasioanal muncul didasarkan atas keperluan manusia yang
dirasakan mendesak setelah adanya interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Pada
saat itu, manusia tidak memiliki cara
untuk mencari bilangan cacah atau bilangan bulat untuk menggantikan nilai a dan b sehingga pernyataan 3 × a
= 4 dan 5 × b = 7 menjadi kalimat
yang benar. Pernyataan tersebut sama saja dengan mencari nilai a dan nilai b, sehingga menjadi a = 4
: 3 dan b = 7 : 5. Oleh karenanya diperlukan suatu
pendefinisian bilangan baru yang berbentuk
dimana a
dan b merupakan bilangan bulat, b bukan faktor dari a, dan b tidak sama
dengan 0 (b≠0). Bentuk bilangan
ini disebut sebagai pecahan atau rasioanal,
dimana a disebut pembilang dan b disebut penyebut.
Pada prinsipnya,
pecahan digunakan untuk menyatakan beberapa bagian dari sejumlah bagian yang
sama. Jumlah seluruh bagian yang sama, bersama-sama membentuk satuan (unit).
Dengan demikian, pecahan adalah bagian-bagian yang sama dari keseluruhan.
Apabila Budi mempunyai sebuah kue yang akan dimakan bertiga dengan temannya,
maka roti tersebut harus dipotong menjadi tiga bagian yang sama. Sehingga
masing-masing anak akan memperoleh 1 dari 3 bagian kue tersebut.
Gambar 1. Peragaan pecahan dengan menggunakan
kue
Peragaan pecahan dapat berupa
daerah-daerah bangun datar beraturan yang diarsir misalnya persegi, persegi
panjang atau lingkaran yang dapat membantu dalam memperagakan konsep pecahan.
satuan satuan
Gambar
2. Pecahan dengan menggunakan bangun datar
Dalam lambang bilangan
,
“2” menunjukkan bagian-bagian yang sama dari suatu keseluruhan dan disebut
penyebut sedangkan “1” menunjukkan banyaknya bagian yang menjadi perhatian atau
diambil dari keseluruhan yang disebut pembilang (Subarinah, 2006).
3.2. Pecahan
Senilai
Pembelajaran tentang
pecahan senilai dapat dilakukan dengan penggunaan alat sederhana, misalnya
dengan menggunakan karton atau kertas. Sebagai contoh
,
dapat diperoleh pecahan yang seniai dengan mengalikan pembilang dan penyebut
dengan bilangan tak nol yang sama misalakan
,
,
,
,
,
dan seterusnya. Sehingga penyelesaiaan untuk
contoh tersebut adalah:
=
=
,
=
=
,
=
=
,
=
=
dengan peragaan benda konkrit sebagai berikut.
1
|
||||||||||||
Gambar 3.
Pecahan senilai
3.3. Penjumlahan
Pecahan
Operasi penjumlahan pada
pecahan pada dasarnya sama dengan konsep penjumlahan bilangan-bilangan lain,
yaitu menggabungkan. Pada penjumlahan pecahan terbagi menjadi dua yaitu
penjumlahan pecahan berpenyebut sama dan penjumlahan pecahan berpenyebut tidak
sama.
1.
Penjumlahan Pecahan
Berpenyebut Sama
Contoh:
+
= ...
Penyelesaiannya
+
=...
Pecahan
menyatakan bahwa 3
merupakan bagian dari 5 sedangkan pecahan
menyatakan bahwa 1
merupakan bagian 5 sehingga hasil penjumlahan antara
an +
an adalah
an.
Dengan
peragaan sebagai berikut
bagian yang
berwarana digabung
|
menjadi
|
||||
+
|
=
|
||||
Gambar
4. Penyelesaian penjumlahan penyebut sama.
Jadi
+
=
=
Dapat
disimpulkan bahwa pecahan berpenyebut sama dilakukan dengan menjumlahkan
pembilang-pembilangnya, sedangkan untuk penyebutnya tidak dijumlahkan. Hal ini
sejalan dengan Mustaqim
dan Astuty (2008:172) yang menyatakan bahwa “penjumlahan pecahan yang berpenyebut
sama dapat dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya, sedangkan
penyebutnya tidak dijumlahkan”
2. Penjumlahan
Pecahan Berpenyebut Tidak sama
Contoh:
+
= ...
Penyelesaian
dengan alat peraga
Gambar
5. Pecahan berpenyebut tidak sama
Untuk menyelesaikannya, terlebih dahulu
dikenalkan kembali dengan pecahan senilai. Pecahan senilai dari
dan
yaitu pecahan dengan penyebut 4 sehingga
=
dan
=
,
untuk pecahan
diganti
sedangkan pecahan
tetap. Oleh sebab itu, potongan pecahan
diarsir lagi menjadi 2 bagian dari 4 dan
penyebutnya telah sama yaitu 4.
Sehingga hasil
+
adalah
bagian yang
berwarana digabung
|
menjadi
|
|||
+
|
=
|
Gambar 6. Penyelesaian penjumlahan pecahan penyebut
tidak sama dengan menggunakan pecahan senilai.
Selain dengan pecahan senilai, penyelesaian pada penjumlahan pecahan
berpenyebut tidak sama dapat diselesaikan dengan menyamakan penyebut melalui
KPK.
Contoh:
+
=...
Untuk menyelesaikan penjumlahan pecahan
+
adalah dengan menyamakan penyebut-penyebutnya
dengan menggunakan KPK melalui kelipatan bilangan. Penyebut pada pecahan
adalah 4 dan pada pecahan
adalah 2, sehingga
Kelipatan 4: 4, 8, 12,
16,...
Kelipatan 2: 2, 4, 6,
8, 10,...
KPK 4 dan 2 adalah 4
Dapat pula dengan
menggunakan pohon faktor dalam menentukan KPK, misal dengan contoh di atas maka
KPK dari 4 dan 2 maka,
4 2
2 2 2 1
2
1
Faktor dari 4 =
× 1 sedangkan faktor dari 2 = 2 × 1. Untuk mencari KPK dari 4
dan 2 yaitu dengan melihat pangkat terbesar diantara dua bilangan tersebut
sehingga KPK dari 4 dan 2 adalah
= 4, maka
+
=
=
=
.
Dapat disimpulkan bahwa
untuk menyelesaikan penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama dapat
diselesaikan dengan pecahan yang senilai atau dengan menyamakan penyebut
menggunakan KPK, setelah penyebut sudah sama kemudian pecahan baru dijumlahkan
seperti menjumlahkan pecahan berpenyebut sama. Hal ini sejalan dengan Mustaqim dan Astuty
(2008:174) yang menyatakan bahwa “penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama
dapat dilakukan dengan menyamakan penyebut dengan menggunakan KPK pada kedua
bilangan (mencari bentuk pecahan yang senilai), kemudian jumlahkan pecahan baru
seperti pada penjumlahan pecahan berpenyebut sama”.
III. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini dalah penelitian tindakan kelas dengan teknik
analisis data kualitatif. Desain penelitian mengacu pada model Kurt Lewin yang dikembangkan oleh
Kemmis dan Mc. Taggart yang meliputi 4 tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan
tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian
ini dilakukan di kelas
IV SD BK Tanapobunti Desa Maranata, Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi pada
mata pelajaran matematika dengan materi penjumlahan pecahan tahun ajaran
2011/2012 semester genap dengan jumlah seluruh siswa 10 orang, 3 siswa
laki-laki dan 7 siswa perempuan.Pengumpulan data dilakukan dengan cara: pemberian tes, observasi, dan wawancara.
Analisis data kualitatif
dilakukan selama dan setelah proses pengumpulan data yang diperoleh dari
aktivitas guru dan aktivitas siswa. Analisa data
dilakukan dengan mengacu pada model Miles dan Huberman (Rohidi, 1992: 16-18),
yaitu (1) mereduksi data (data reduction),
(2) penyajian data (data display),
dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (conclusion
drawing/verification).
IV.
Temuan Penelitian dan Pembahasan
Penelitian dilakukan
secara bersiklus dan berlangsung dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan
sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun oleh
peneliti. Pada pelaksanaan tindakan, peneliti menerapkan pendekatan CTL dalam
menjumlahkan dua bilangan pecahan berpenyebut sama dan pecahan berpenyebut
tidak sama. Dalam pembelajaran CTL peneliti mengaitkan materi pelajaran dengan
situasi dunia nyata siswa sehingga mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dalam Center on Education and Work at the University of Wisconsin Madison (2002, dalam Kunandar 2007:296) menyatakan
pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi belajar mengajar yang membantu
guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi
siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam
kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan pekerja serta meminta
ketekunan belajar. Lebih lanjut Depdiknas (2003:3) menyatakan bahwa
pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilki dengan penerapan dalam
kehidupan mereka sehari-hari. John Dewey (Mukhlis, 2012) menambahkan bahwa
siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang
telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi
disekelilingnya. Selanjutnya Piaget (dalam Tya, 2010) mengemukakan bahwa pengetahuan tidak
diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan.
Sebelum melakukan tindakan,
peneliti melakukan tes awal. Tes awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal
yang dimilki siswa tentang konsep pecahan sebelum siswa belajar lebih lanjut
mengenai penjumlahan pecahan, baik penjumlahan pecahan berpenyebut sama maupun
penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama.
Hal ini sejalan dengan Edgar Dale (wikipedia, 2012) mengemukakan bahwa
belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Hasil tes
awal memberikan gambaran bahwa 7 siswa dari 10 siswa dapat menjawab soal tes
awal dengan baik. Hal ini berarti siswa tersebut masih mengingat konsep pecahan
dengan baik walaupun masih terdapat 3 siswa yang masih mendapat nilai kurang.
Siswa yang mendapat nilai kurang disebabkan siswa lupa membedakan yang mana
pembilang dan yang mana penyebut, sehingga dalam menuliskan pecahan masih
terbalik.
Pelaksanaan tindakan dalam
penelitian ini dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan
refleksi. Perencanaan pelaksanaan tindakan untuk
setiap siklus adalah sama yaitu dengan mempersiapkan RPP, mempersiapkan materi
dan alat peraga pembelajaran, menyiapkan LKS, membuat lembar observasi, dan
mempersiapkan tes hasil belajar siswa. Untuk aktivitas pembelajaran disesuaikan
dengan langkah-langkah pembelajaran yang ada dalam RPP yang telah mengacu pada
komponen pembelajaran CTL. Hal ini sesuai dengan pernyataan Depdiknas (2003:5),
bahwa dalam pendekatan pembelajaran CTL memiliki 7 asas yang melandasi
pelaksanaan proses pembelajaran yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya (Questioning), kelompok belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian nyata (Authentic Assessment).
Dalam kegiatan pembelajaran
Siklus I, guru (peneliti) terlebih dahulu memberikan apersepsi kepada siswa,
yakni dengan menanyakan kembali konsep pecahan yang telah dipelajari melalui
pengalaman yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat
Johan Amos Comenius (dalam
Yamin, 2009:8) menyatakan bahwa “betapa besar
fungsi pengalaman untuk mengubah perilaku manusia”. Dengan demikian, melalui
apersepsi guru (peneliti) dapat mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki
siswa mengenai materi yang akan diajarkan.
Setelah melakukan apersepsi, guru
(peneliti) mengelompokkan siswa ke dalam 2 kelompok yang beranggotakan 5 orang
siswa. Belajar secara berkelompok, siswa dapat bertukar pendapat dalam
memecahkan soal atau masalah dalam pelajaran, membiasakan siswa untuk bekerja
sama dan membiasakan siswa untuk dapat menerima dan menghargai pendapat orang
lain.
Guru
membagikan LKS pada tiap-tiap kelompok setelah
siswa duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Menggunakan LKS dalam
pembelajaran sangat diperlukan siswa untuk mengembangkan kerangka keilmuannya,
sehingga melalui LKS siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dari
hasil menemukan sendiri. Sebagaimana dengan pendapat Laghecong (Kompasiana,
2011) bahwa keberadaan LKS dalam proses pembelajaran tetap diperlukan terutama
karena tujuan pembelajaran sebenarnya adalah membangun kerangka keilmuan dari
diri siswa itu sendiri. Kunandar (2007:309) menambahkan bahwa menemukan atau inquiry merupakan bagian dari
pembelajaran berbasis kontekstual yang berpendapat bahwa pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Sehingga dengan menggunakan
LKS siswa dapat belajar untuk memahami suatu masalah, mengalami sendiri apa
yang yang ia peroleh, dan dapat mengembangkan keterampilan yang ia miliki
sebelumnya.
Kegiatan selanjutnya, guru
memberikan contoh soal kepada siswa dengan melibatkan siswa secara penuh dan
memfasilitasi siswa dalam mengerjakan LKS sehingga siswa memperoleh pengetahuan
dan keterampilan melalui penemuannya sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh
Kunandar (2007:313) bahwa dalam pembelajaran kontekstual guru bukan
satu-satunya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Lebih lanjut
Piaget (dalam Tya, 2010) mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara
pasif oleh seseorang melainkan melalui tindakan.
Saat
memberikan contoh soal, guru menggunakan roti sebagai alat peraga didalam
pembelajaran sehingga proses pembelajaran lebih menarik dan merangsang siswa
untuk aktif, mangamati serta menyesuaikan antara teori dan kenyataan dengan mencoba
untuk melakukan sendiri. Sebagaimana
dikemukakan oleh John Dewey (Mukhlis, 2012) yang menyimpulkan bahwa siswa akan
belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah
diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.
Lebih lanjut lagi Piaget (dalam Tya, 2010) mengemukakan bahwa pengetahuan tidak
diperoleh secara pasif oleh seseorang melainkan melalui tindakan. Adapun contoh
soal yang peneliti berikan kepada siswa yaitu,“Pak Slamet memiliki roti yang
berbentuk persegi. Roti tersebut dipotong menjadi empat potong yang sama besar.
Pak Slamet mengambil
potong roti untuk diberikan kepada Diah dan
mengambil lagi
potong roti untuk diberikan kepada Budi.
Berapa banyak potongan roti yang telah diberikan Pak Slamet kepada kedua anak
tersebut?”.
Kegiatan selanjutnya, guru
menyuruh tiga orang siswa maju ke depan kelas untuk berperan sebagai Pak
Slamet, Diah dan Budi. Ini sejalan dengan pendapat Kunandar (2007:313)
menyatakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model,
model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Dalam kegiatannya, guru
membacakan soal dan siswa-siswa tersebut yang melakukan kegiatan sesuai dengan
perannya masing-masing. Kegiatan yang dilakukan siswa yaitu Pak Slamet (Acen)
mengambil sebuah roti dan memotong menjadi 4 potongan yang sama besar, kemudian
dia memberikan
potongan roti kepada Diah (Yanet) dan
memberikan
potongan roti lagi kepada Budi (Open).
Kemudian Diah dan Budi menggabungkan roti mereka. Selanjutnya guru bertanya,
berapa banyak potongan roti yang telah Pak Slamet berikan kepada Diah dan Budi?
Kalvin menjawab “ada dua” guru...” Guru bertanya kembali “dua apa?” Tirsa
menjawab “dua roti guru”. Guru menjawab: ia, jadi jumlahnya ada dua potong
roti, nah potongan roti tadi dari mana? Anggi menjawab “roti tersebut dari
sebuah roti yang Pak Slamet potong menjadi 4 potong”. Kemudian Guru meminta
siswa untuk menyimpulkan hasil dari soal tersebut. Hasil kesimpulan siswa dari
soal tersebut yaitu
, jadi Pak Slamet telah memberikan roti
kepada Diah dan Budi sebanyak
potong roti. Kemudian
guru menyimpulkan materi pelajaran, bahwa dalam menyelesaikan penjumlahan
pecahan berpenyebut sama dapat dilakukan dengan menjumlahkan
pembilang-pembilangnya sedangkan untuk penyebutnya tidak dijumlahkan. Sesuai
dengan pernyataan Mustaqim dan Astuty (2008:172) bahwa penjumlahan pecahan
berpenyebut sama dapat dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya
saja, sedangkan penyebutnya tidak dijumlahkan.
Selanjutnya, guru bertanya kepada
siswa untuk mengetahui apa yang belum dipahami siswa dalam menjumlahkan dua
bilangan pecahan berpenyebut sama. Maksud pertanyaan ini untuk mendorong,
membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Sebagaimana pendapat Kunandar
(2007:310) menyatakan bahwa bertanya dalam pembelajaran sebagai kegiatan guru
untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Setelah siswa
memahami penjelasan guru tentang cara menjumlahkan dua bilangan pecahan
berpenyebut sama, guru meminta siswa untuk mengerjakan LKS sesuai dengan
kelompoknya masing-masing.
Setelah semua kelompok selesai
mengerjakan LKS, guru menyuruh perwakilan tiap kelompok untuk menuliskan hasil
kerja mereka di papan tulis dan membandingkan serta mendiskusikan hasil kerja
kelompok di depan kelas. Saat
mempresentasikan dan mendiskusikan hasil kerja mereka, ada beberapa siswa yang
yang mengajukan pertanyaan dan beberapa siswa yang menjawab beberapa
pertanyaan. Peneliti melihat bahwa siswa sangat antusias dalam mengerjakan soal
dan keberanian siswa dalam berpendapat juga sudah baik. Keantusiasan siswa
dalam belajar sangat nampak ketika mereka mempresentasikan dan mendiskusikan
hasil kerja mereka di depan kelas. Hal ini disebabkan karena pada saat siswa
belajar, mereka mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, sehingga siswa
percaya diri dalam mempresentasikan hasil kerja mereka. Seperti yang
dikemukakan Ariani, dkk (2009) menyatakan bahwa belajar akan lebih bermakna
jika anak didik “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahui”
apa yang dipelajari. Lebih lanjut Johnson (2002, dalam Kunandar 2007:295)
pembelajaran kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu
siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan
konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Beberapa siswa yang
bertanya pada saat diskusi, yaitu Anggi, Acen, Gadis, dan Serwin sedangkan
siswa yang telah berani menjawab beberapa pertanyaan yang peneliti ajukan
kepada mereka, yaitu Kalvin, Andri, Tirsa, dan Anggi.
Untuk mengetahui keberhasilan
dalam pembelajaran, guru melakukan refleksi dan penilaian. Kegiatan refleksi
dilakukan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang baru dilakukan ataupun yang
telah dilakukan dalam proses belajar. Sebagaimana Kunandar (2012:314)
menyatakan refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau
berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu.
Dalam kegiatan refleksi guru bertanya kepada siswa mengenai kegiatan belajar
yang telah dilakukan. Apakah mereka senang dengan kegiatan yang dilakukan dan
apakah siswa memperoleh kemudahan dalam belajar penjumlahan dua bilangan
pecahan berpenyebut sama? Dari hasil refleksi tersebut, pada umumnya siswa
mengatakan bahwa mereka senang belajar dengan menggunakan pendekatan CTL,
mereka senang karena mereka belajar sendiri sesuai dengan pengalaman yang telah
dilakukan. Sebagaimana pendapat Edgar Dale (wikipedia, 2012), mengemukakan
bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung.
Kegiatan akhir pembelajaran, guru memberikan
penilaian melalui tes. Tes dilakukan untuk memberikan gambaran tentang
perkembangan belajar siswa. Seperti yang dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono
(2002:36) bahwa hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkkan dari suatu
interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang
diberikan guru. Selanjutnya Kunandar (2007:315) menyatakan bahwa assessment adalah proses pengumpulan
berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Selama proses pembelajaran yang
berlangsung dengan menerapkan CTL, siswa terlibat aktif dalam menjumlahkan dua
bilangan pecahan berpenyebut sama, misalnya pada soal LKS no.1 yaitu Ibu
memiliki kue yang berbentuk lingkaran. Kue tersebut dipotong menjadi 8 bagian
yang sama besar.
potong diberikan kepada Rani dan
potong diberikan kepada Dewi. Berapa jumlah
potong kue yang ibu berikan kepada dua anak tersebut? Keaktifan siswa dalam
belajar disebabkan karena guru memberikan kesempatan secara penuh untuk menemukan
sendiri apa yang mereka pelajari. Sebagaimana Ariani,
dkk (2009) menyatakan bahwa belajar akan lebih bermakna jika anak didik
“mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahui” apa yang
dipelajari.
Dari hasil observasi aktivitas
siswa dalam kegiatan pembelajaran yang diberikan oleh pengamat, pengamat
melihat kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, memberikan tanggapan
terhadap informasi yang disampaikan guru, pemahaman dan perhatian siswa dalam
memecahkan dan menyelasaikan masalah dalam LKS semua sudah baik, namun dalam
aspek tanya jawab, mempresentasikan hasil kerja, dan menarik kesimpulan
terhadap materi yang telah dipelajari pengamat memberikan penilaian sedang
kepada siswa. Hal ini disebabkan selama proses pembelajaran siswa masih takut
dan segan untuk berbicara kepada temannya maupun terhadap guru ketika mengalami
kesulitan.
Analisis hasil observasi pengamat
terhadap aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran, pengamat memberikan
penilaian baik pada saat melakukan apersepsi, pemberian motivasi kepada siswa,
menjelaskan tujuan pembelajaran, memberikan materi pelajaran dan melakukan
evaluasi. Sedangkan untuk kriteria penilaian sangat baik pada saat peneliti
memberikan kesempatan kepada siswa melalui kegiatan tanya jawab, berdiskusi dan
melakukan interaksi dalam kelompok belajar siswa serta membimbing siswa dan
memotivasi dalam menyelesaikan masalah ketika mengalami kesulitan dalam
mengerjakan LKS.
Untuk mengetahui keberhasilan
dalam penelitian ini, peneliti melakukan tes akhir tindakan. Tes dilakukan
untuk memberikan gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa. Seperti
yang dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono (2002:36) bahwa hasil belajar adalah
hasil yang ditunjukkkan dari suatu interaksi tindak belajar dan biasanya
ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. Selanjutnya Kunandar
(2007:315) menyatakan bahwa assessment adalah
proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan
belajar siswa. Hasil tes tindakan pada Siklus I dengan menerapkan CTL dalam
pembelajaran ternyata sangat membantu siswa dalam hal meningkatkan hasil
belajar dan mengembangkan atau mengaktualkan potensi yang ada dalam diri siswa
sehingga siswa dapat dengan mudah memahami materi pelajaran yang diajarkan
sesuai dengan pengalaman yang diperolehnya. Sebagaimana yang diungkapkan Jean
Jacques Rouseseau (Wikipedia, 2012) menyatakan bahwa anak memiliki
potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi
kesempatan untuk mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut.
Analisis tes hasil belajar pada Siklus
I diperoleh data bahwa dari 5 nomor soal,
siswa dapat mengerjakan dengan baik dan benar, namun masih terdapat beberapa
jawaban dari siswa yang masih kurang tepat. Hasil analisis tes tindakan diperoleh
sebanyak delapan siswa mendapatkan nilai 100,
hanya seorang siswa yang mendapat nilai 90 dan seorang siswa lagi mendapat
nilai 80. Dari hasil analisis tersebut dinyatakan bahwa seluruh siswa dapat
menjumlahan dua bilangan pecahan berpenyebut sama sesuai dengan indikator yang
telah ditetapkan. Namun, dari ke-5 nomor soal, soal nomor 4 dan nomor 5
beberapa siswa kurang tepat dalam menyelesaikan penjumlahan dua bilangan
pecahan berpenyebut sama. Untuk mengetahui apa penyebabnya, peneliti melakukan
wawancara terhadap siswa tersebut. Peneliti memilih dua siswa sebagai subyek
wawancara, yaitu AG (Anggi) dan AD (Andri).
AG masih kurang dalam menjawab
soal no. 4. Jawaban dari AG yaitu,
=
1
+ 7 =
. AG hanya menuliskan pembilangnya saja
sedangkan penyebutnya tidak ditulis. Peneliti melakukan wawancara dan menyuruh
AG untuk memperbaiki jawabanya, ketika melakukan wawancara ternyata
dia hanya kurang teliti dalam menjumlahkan dua bilangan pencahan berpenyebut
sama. Dalam kegiatan wawancara tersebut, peneliti tetap meminta AG untuk
menggunakan roti dalam memperbaiki jawabannya, tetapi
saat peneliti meminta AG mengerjakan kembali soal tersebut AG tidak menggunakan
roti dengan alasan bahwa dia telah tahu cara menyelesaikan soal tersebut tanpa
menggunakan roti dan AG mengerjakan kembali soal tersebut, jawaban AG
=
=
telah benar. Jadi, AG sebenarnya dapat
menjumlahkan dua bilangan pecahan berpenyebut sama, hanya saja dia kurang
teliti dalam mengerjakan soal. Kemudian peneliti meminta AG untuk kembali
menyimpulkan tentang apa yang baru saja dilakukannya. AG menyimpulkan bahwa
dalam menjumlahkan pecahan berpenyebut sama dapat dilakukan dengan menjumlahkan
pembilang-pembilangya saja, sedangkan penyebutnya tidak dijumlahkan. Hal ini
telah sejalan dengan pernyataan Mustaqim dan Astuty (2008:172)
yang menyatakan bahwa “penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama dapat
dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya, sedangkan penyebutnya
tidak dijumlahkan”.
AD masih keliru dalam menjawab soal no.5.
Jawaban AD yaitu
. AD hanya menuliskan pembilangnya saja
pada langkah kerjanya sedangkan penyebutnya tidak ditulis AD dan hasil
penjumlahan yang dilakukan AD juga masih keliru. Untuk mengetahui apa penyebabnya,
peneliti melakukan wawancara dan menyuruh AD untuk memperbaiki kembali
jawabannya. Dalam kegiatan wawancara tersebut, peneliti tetap mengguanakan roti
sebagai alat peraga. Peneliti meminta AD untuk menghitung kembali jawabannya
yang masih keliru dengan menggunakan roti dan tetap memberikan kebebasan kepada
AD menggunakan roti dalam menyelesaikan soal. Adapun kegiatan yang dilakukan AD
dalam memperbaiki jawabannya yaitu ia mengambil sebuah roti, memotongnya
menjadi 16 potong sama besar, ia mengambil roti lagi dan memotongnya menjadi 16
potong yang sama besar. AD melihat kembali soal, kemudian ia mengambil roti
sebanyak 11 potong roti dari 16 potongan roti tersebut. AD mengambil lagi
sebanyak 3 potong dari 16 potong. AD menggabungkan kedua potongan-potongan roti
tersebut. Setelah selesai menggabungkan semua potongan roti tersebut, peneliti
bertanya kepada AD “jadi berapa jumlahnya sekarang?”. AD menghitung secara
pelan-pelan dan ia menjawab “jumlahnya ada 14 potong roti dari 16 potong roti
guru”. Jawaban AD telah benar, peneliti meminta AD untuk menuliskan kembali
jawabannya pada bukunya. AD menuliskan jawabannya dengan melihat kembali
langkah-langkah dari jawabannya yang sudah benar dan ia menulis
pada bukunya. Hal ini sependapat dengan John Dewey (Mukhlis, 2012) yang
menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari
terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang
terjadi disekelilingnya. Setelah memperbaiki jawabanya, peneliti bertanya
kembali kepada AD apakah ia sudah paham dan mengerti cara menjumlahkan dua
bilangan pecahan penyebut sama dan AD menjawab ia sudah paham bagaimana cara
menyelesaikannya. Kemudian peneliti meminta AD untuk kembali menyimpulkan
tentang apa yang baru saja dilakukannya. AD menyimpulkan bahwa dalam
menjumlahkan pecahan berpenyebut sama dapat dilakukan dengan menjumlahkan
pembilang-pembilangya saja, sedangkan penyebutnya tidak dijumlahkan. Hal ini
telah sejalan dengan pernyataan Mustaqim dan Astuty (2008:172)
yang menyatakan bahwa “penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama dapat
dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya, sedangkan penyebutnya
tidak dijumlahkan”.
Pada akhir tindakan dalam Siklus I peneliti melakukan refleksi.
Kegiatan refleksi dilakukan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang baru
dilakukan ataupun yang telah dilakukan. Sebagaimana Kunandar (2012:314)
menyatakan bahwa refleksi merupakan cara berfikir tentang apa yang baru
dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di
masa yang lalu. Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti bersama pengamat
mulai dari aktivitas siswa, aktivitas guru maupun hasil belajar siswa. Pada
umumnya siswa mengatakan bahwa mereka senang belajar dengan menggunakan
pendekatan CTL yang peneliti terapkan, karena siswa senang belajar dari
pengalaman yang ia miliki sebelumnya. Sebagaimana pendapat Edgar Dale
(wikipedia, 2012), mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar
melalui pengalaman langsung. Selanjutnya Burton (dalam
Aunurrahman, 2010:35) menyatakan belajar adalah
sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi
antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga
mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Hasil tes akhir tindakan Siklus I memberikan gambaran bahwa siswa dapat
menjumlahkan dua bilangan pecahan berpenyebut sama. Hasil ini telah sesuai
dengan indikator keberhasilan yang diharapkan dalam pembelajaran, walaupun
dalam kegiatan belajar pada Siklus
I ditemukan kendala yakni proses pembelajaran yang peneliti lakukan masih
terkesan tergesa-gesa dan peneliti belum efektif dalam memanfaatkan waktu yang
telah ditentukan dalam RPP. Hal ini telah sejalan dengan pendapat Hamalik
(2009:30) menyatakan bahwa bukti dan hasil dari belajar adalah adanya perubahan
tingkah laku pada orang tersebut, misal dari yang tidak tahu menjadi tahu dan
dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. Seseorang yang telah melakukan
perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan dalam salah satu atau
beberapa aspek tingkah laku, pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan,
apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, sikap, etis atau budi pekerti.
Tahap pelaksanaan tindakan
pembelajaran pada Siklus II pada dasarnya adalah sama dengan Siklus I. Guru terlebih dahulu memberikan apersepsi
kepada siswa tentang materi yang telah dibahas pada siklus sebelumnya.
Apersepsi yang dilakukan peneliti yaitu melakukan tanya jawab dengan memberikan
beberapa contoh soal penjumlahan dua bilangan pecahan berpenyebut sama dan
siswa dapat mengerjakan contoh soal tersebut dengan baik. Hal ini menunjukkan
bahwa siswa mampu menyerap pelajaran
yang mereka terima sebelumnya untuk mengaitkan informasi baru yang ia
peroleh. Sebagaimana pendapat Elaine B. Johnson (2007 dalam Ariani, dkk: 2009)
menyatakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa
mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis
yang mereka terima dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka
bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah
mereka miliki sebelumnya.
Selanjutnya, guru menyampaikan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, kemudian meminta siswa untuk duduk
dengan kelompoknya masing-masing sesuai dengan kelompok Siklus I. Tujuan pengelompokan ini sama
dengan tujuan pada Siklus
I, yakni belajar secara berkelompok siswa dapat bertukar pendapat dalam
memecahkan soal atau masalah dalam pelajaran, membiasakan siswa untuk bekerja
sama dan membiasakan siswa untuk dapat menerima dan menghargai pendapat orang
lain.
Setelah siswa duduk sesuai dengan
kelompoknya masing-masing, guru membagikan
LKS pada tiap-tiap kelompok. Menggunakan
LKS dalam pembelajaran sangat diperlukan siswa untuk mengembangkan kerangka
keilmuannya, sehingga melalui LKS siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan
baru dari hasil menemukan sendiri. Sebagaimana dengan pendapat Laghecong
(Kompasiana, 2011) bahwa keberadaan LKS dalam proses pembelajaran tetap
diperlukan terutama karena tujuan pembelajaran sebenarnya adalah membangun
kerangka keilmuan dari diri siswa itu sendiri. Kunandar (2007:309) menambahkan
bahwa menemukan atau inquiry merupakan
bagian dari pembelajaran berbasis kontekstual yang berpendapat bahwa
pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Sehingga dengan menggunakan LKS siswa dapat belajar untuk memahami suatu
masalah, mengalami sendiri apa yang yang ia peroleh, dan dapat mengembangkan
keterampilan yang ia miliki sebelumnya.
Kemudian, peneliti memberikan
contoh soal kepada siswa dengan melibatkan siswa secara penuh dan memfasilitasi
siswa dalam mengerjakan LKS sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan
keterampilan melalui penemuannya sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh
Kunandar (2007:313) menyatakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya
model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Lebih lanjut Piaget
(dalam Tya, 2010) mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif
oleh seseorang melainkan melalui tindakan.
Seperti halnya disiklus I saat
memberikan contoh soal, guru menggunakan roti sebagai alat peraga didalam
pembelajaran, supaya siswa lebih mudah memahami apa yang telah dipelajari
sehingga proses pembelajaran lebih menarik dan merangsang siswa untuk aktif,
mangamati serta menyesuaikan antara teori dan kenyataan dengan mencoba untuk
melakukan sendiri. John Dewey (Mukhlis, 2012) menyimpulkan bahwa siswa akan
belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah
diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya. Lebih
lanjut lagi Piaget (dalam Tya, 2010) mengemukakan bahwa pengetahuan tidak
diperoleh secara pasif oleh seseorang melainkan melalui tindakan. Adapun contoh
soal yang peneliti berikan kepada siswa yaitu,
“Ema
memilki roti sebesar
potong. Kemudian diberi lagi oleh kakak
sebesar
potong. Berapa besar potongan roti yang
dimiliki Ema sekarang?”.
Kegiatan selanjutnya, guru
menyuruh dua orang siswa untuk maju ke depan kelas untuk berperan sebagai Ema
dan Kakak. Ini sejalan dengan pendapat Kunandar (2007:313) menyatakan bahwa
dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model, model dapat
dirancang dengan melibatkan siswa. Didalam kegiatannya, guru membacakan soal
dan kedua siswa tersebut melakukan kegiatan sesuai dengan perannya
masing-masing. Adapun kegiatan yang dilakukan siswa tersebuat yaitu Ema
(Serwin) telah mempunyai sebesar
potong roti, kemudian Kakak (Novi) memberikan lagi
potong roti. Selanjutnya Ema (Serwin)
menggabungkan kedua roti tersebut. Selanjutnya guru bertanya kepada siswa, berapa
banyak potongan roti yang Ema miliki sekaranga? Awalnya siswa masih mengalami
kesulitan dalam menjumlahkan , kemudian guru memberikan arahan pada siswa.
Arahan guru berikan yaitu, guru menyuruh siswa tersebut untuk memotong roti
yang ukurannya besar sesuai dengan ukuran roti yang paling kecil setelah itu
baru dapat dijumlahkan. Setelah siswa selesai memotong-motong roti tersebut,
guru kembali bertanya kepada siswa berapa jumlah roti Ema sekarang? Kalvin
menjawab “ada tiga potong roti guru”. Guru menjawab: ia, jadi jumlah roti Ema
ada tiga potong roti, nah tiga potongan roti tadi kan sudah sama besar jika
kita susun kembali roti tersebut, 3 potongan roti itu bagian dari berapa roti?
Siswa menjawab dari 4 bagian roti kan tadi roti yang kecil besarnya
sedangkan yang
setelah dipotong sesuai dengan ukuran yang
kecil hasilnya menjadi
guru, ia benar sekali, jadi siapa yang bisa
menyimpulkan? Siswa menyimpulkan
,
jadi roti yang dimiliki Ema sekarang sebanyak
potong roti. Kemudian guru menyimpulkan
kembali materi pelajaran, bahwa dalam menyelesaikan penjumlahan pecahan
berpenyebut tidak sama dapat dilakukan dengan menyamakan penyebutnya, setelah
penyebutnya sama kemudian pecahan baru dijumlahkan seperti menjumlahkan pecahan
berpenyebut sama. Hal ini sejalan dengan Mustaqim dan Astuty (2008:174) yang
menyatakan bahwa penjumlahan
pecahan berpenyebut tidak sama dapat dilakukan dengan menyamakan penyebut
dengan menggunakan KPK pada kedua bilangan (mencari bentuk pecahan yang
senilai), kemudian jumlahkan pecahan baru seperti pada penjumlahan pecahan
berpenyebut sama”.
Selanjutnya, guru bertanya kepada
siswa untuk mengetahui apa yang belum dipahami siswa dalam menjumlahkan dua
bilangan pecahan berpenyebut tidak sama. Maksud pertanyaan ini untuk mendorong,
membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Sebagaimana pendapat Kunandar
(2007:310) menyatakan bahwa bertanya dalam pembelajaran sebagai kegiatan guru
untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Setelah
siswa memahami penjelasan guru tentang cara menjumlahkan dua bilangan pecahan
berpenyebut tidak sama, peneliti meminta siswa untuk mengerjakan LKS sesuai
dengan kelompoknya masing-masing.
Setelah semua kelompok selesai
mengerjakan LKS guru menyuruh perwakilan setiap kelompok untuk menuliskan hasil
kerja mereka di papan tulis dan membandingkan serta mendiskusikan hasil kerja
kelompok di depan kelas. Pada saat mempresentasikan dan mendiskusikan hasil
kerja mereka, ada beberapa siswa yang yang mengajukan pertanyaan dan beberapa
siswa yang menjawab beberapa pertanyaan. Guru melihat bahwa siswa sangat
antusias dalam mengerjakan soal dan keberanian siswa dalam berpendapat juga
sudah baik. Keantusiasan siswa dalam belajar sangat nampak ketika mereka
mempresentasikan dan mendiskusikan hasil kerja mereka di depan kelas. Hal ini
disebabkan karena pada saat siswa belajar, mereka mengalami sendiri apa yang
telah dipelajarinya, sehingga siswa merasa percaya diri dalam mempresentasikan
hasil kerja mereka. Seperti yang dikemukakan Ariani, dkk (2009) menyatakan
bahwa belajar akan lebih bermakna jika anak didik “mengalami” apa yang
dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahui” apa yang dipelajari. Lebih lanjut
Johnson (2002, dalam Kunandar 2007:295) pembelajaran kontekstual adalah suatu
proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan
pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks
kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya,
sosialnya, dan budayanya. Beberapa siswa yang bertanya pada saat diskusi, yaitu
Acen, Novi, dan Andri sedangkan siswa yang telah berani menjawab beberapa
pertanyaan yang peneliti ajukan kepada mereka, yaitu Acen, Open, dan Yanet.
Selanjutnya
guru
melakukan refleksi dan penilaian. Kegiatan refleksi dilakukan untuk mengetahui
hal-hal apa saja yang baru dilakukan ataupun yang telah dilakukan dalam proses
belajar. Sebagaimana Kunandar (2012:314) menyatakan refleksi adalah cara
berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang
apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Dalam kegiatan refleksi guru
bertanya kepada siswa mengenai kegiatan belajar yang telah dilakukan. Apakah
mereka senang dengan kegiatan yang dilakukan dan apakah siswa memperoleh
kemudahan dalam belajar penjumlahan dua bilangan pecahan berpenyebut tidak
sama? Dari hasil refleksi tersebut, pada umumnya siswa mengatakan bahwa mereka
senang belajar dengan kondisi seperti ini, mereka senang karena mereka belajar
sendiri sesuai dengan pengalaman yang telah dilakukan sebelumnya oleh siswa.
Sebagaimana pendapat Edgar Dale (Wikipedia, 2012), bahwa belajar yang paling
baik adalah belajar melalui pengalaman langsung.
Untuk mengetahui keberhasilan
dalam pembelajaran yang telah guru lakukan, maka guru memberikan penilaian
kepada siswa melalui tes. Tes dilakukan untuk memberikan gambaran tentang
perkembangan belajar siswa. Seperti yang dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono
(2002:36) bahwa hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkkan dari suatu
interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang
diberikan guru. Selanjutnya Kunandar (2007:315) menyatakan bahwa assessment adalah proses pengumpulan
berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Seperti halnya pada Siklus I, peneliti juga melakukan
observasi terhadap aktivitas pembelajaran yang dilakukan disiklus II. Peneliti
melihat bahwa siswa sangat antusias dalam mengerjakan LKS misalnya dalam soal
LKS no.2 yaitu Abid mempunyai
potong
roti. Marbun juga mempunyai
potong roti. Jika kedua anak menggabungkan
potongan roti tersebut, berapakah jumlah potongan roti sekarang? Siswa sangat
aktif saat mereka momotong-motong roti dan akhirnya menemukan hasil yang
diharapkan. Keaktifan siswa dalam belajar ini disebabkan guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri apa yang mereka pelajari.
Sebagaimana Ariani, dkk (2009) menyatakan bahwa belajar akan
lebih bermakna jika anak didik “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan
sekedar “mengetahui” apa yang dipelajari.
Dari hasil pengamatan yang
dilakukan pengamat secara umum pengamat memberikan kriteria baik untuk setiap
pertemuan. Guru telah menyampaikan materi dengan baik melalui pendekatan CTL.
Aktifitas siswa terlihat lebih aktif dibandingkan aktifitas guru dalam
pembelajaran. Aktivitas inilah yang diharapkan dan dikembangkan dalam setiap
pembelajaran kontekstual. Dari hasil pengamatan yang dilakukan pengamat
terhadap akitivitas siswa dan guru pada setiap siklus secara umum sudah baik.
Untuk mengetahui keberhasilan
dalam penelitian ini, peneliti melakukan tes akhir tindakan. Tes akhir tindakan
dilakukan untuk memberikan gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa.
Seperti yang dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono (2002:36) bahwa hasil
belajar adalah hasil yang ditunjukkkan dari suatu interaksi tindak belajar dan
biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. Selanjutnya Kunandar
(2007:315) menyatakan bahwa assessment adalah
proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan
belajar siswa. Hasil tes akhir tindakan siklus II dengan menerapkan CTL dalam
pembelajaran ternyata sangat membantu siswa dalam hal meningkatkan hasil
belajar dan siswa dapat dengan mudah memahami materi penjumlahan dua bilangan
pecahan berpenyebut tidak sama.
Hasil analisis tes tindakan Siklus
II dapat dikatakan bahwa siswa dapat
mengerjakan soal dengan baik namun dari 5 nomor soal tersebut masih terdapat
beberapa soal yang diselesaikan siswa kurang tepat. Hasil analisis tes tindakan
pada Siklus II, diperoleh hasil; seorang siswa
yang mendapat nilai 82,5; tiga orang siswa mendapat nilai 85; dua orang siswa mendapat nilai 92,5; seorang siswa mendapat nilai 97,5; dan dua orang siswa mendapatkan nilai
100. Dari analisis hasil tes tersebut maka dalam tindakan Siklus II, siswa
dinyatakan dapat menjumlahkan dua bilangan pecahan berpenyebut tidak sama dan
hal ini telah sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan. Beberapa
soal yang diselesaikan siswa kurang tepat yaitu; soal nomor 3 ada dua orang
siswa, soal nomor 4 ada empat orang siswa dan soal nomor 5 dua orang siswa.
Untuk mengetahui apa penyebabnya, peneliti melakukan wawancara terhadap siswa
tersebut. Peneliti memilih dua siswa sebagai subyek wawancara, yaitu GD (Gadis)
dan AD (Andri).
GD tidak menyelesaikan jawaban
pada soal no.3. Jawaban dari GD yaitu
, hal ini dikarenakan GD terlalu
terburu-buru dan kurang teliti dalam menyelesaikan soal.
Peneliti meminta GD untuk memperbaiki kembali jawabannya dengan tetap
menggunakan roti sebagai alat peraga, namun GD tidak menggunakan roti dengan
alasan bahwa dia telah tahu cara menyelesaikan soal tersebut. GD mengerjakan
kembali soal tersebut. Jawaban GD
=
telah benar. Jadi GD sebenarnya sudah dapat
menjumlahkan dua bilangan pecahan berpenyebut tidak sama, hanya saja dia kurang
teliti dalam mengerjakan soal. Kemudian peneliti meminta GD untuk menyimpulkan
kembali tentang apa yang baru saja dilakukannya. GD menyimpulkan bahwa dalam
menjumlahkan pecahan perbenyebut tidak sama, harus disamakan dulu penyebutnya
baru pembilangnya dijumlahkan. Kesimpulan GD telah sejalan dengan pernyataan Mustaqim
dan Astuty (2008:174) yang menyatakan bahwa “penjumlahan pecahan
berpenyebut tidak sama dapat dilakukan dengan menyamakan penyebut dengan
menggunakan KPK pada kedua bilangan (mencari bentuk pecahan yang senilai),
kemudian jumlahkan pecahan baru seperti pada penjumlahan pecahan berpenyebut
sama”.
AD masih keliru dalam menjawab soal no.4.
Adapun jawaban dari AD yaitu
=
. Saat peneliti meminta AD mengerjakan
kembali soal tersebut, ternyata dia masih mengalami kesulitan dalam mengalikan
Untuk mengatasi hal ini, peneliti membimbing
AD dalam mengalikan
menggunakan penjumlahan berulang dengan
bantuan alat peraga berupa potongan-potongan roti. Peneliti menyuruh AD untuk
mengambil 9 potong roti sebanyak 3 kali. Setelah itu, peneliti meminta AD untuk
menghitung keseluruhan potongan roti tersebut. Jumlah hitungan AD sebanyak 27
potong roti. Kemudian peneliti meminta AD untuk menyimpulkan 9
3
= . . . , dan Jawaban dari AD yaitu 9
3
= 9 + 9 + 9 = 27. Setelah AD memperhatikan penjelasan peneliti, dia dapat
mengalikan bilangan walaupun masih memerlukan waktu sedikit lama dalam
menyelesaikan perkalian. Selanjutnya peneliti menyuruh AD untuk memperbaiki
jawaban dari no. 4 tersebut. Adapun jawaban dari AD yaitu
=
. Secara keseluruhan hasil tes yang
diperoleh siswa menandakan bahwa siswa dapat menjumlahkan dua bilangan pecahan
berpenyebut tidak sama, sehingga indikator pembelajaran yang diharapkan tetap
tercapai.
Pada akhir tindakan Siklus II
dilakukan refleksi. Kegiatan refleksi dilakukan untuk mengetahui hal-hal apa
saja yang baru dilakukan ataupun yang telah dilakukan. Sebagaimana Kunandar
(2012:314) mengemukakan bahwa refleksi merupakan cara berfikir tentang apa yang
baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita
lakukan di masa yang lalu. Kegiatan refleksi dilakukan mulai dari aktivitas
siswa, aktivitas guru maupun hasil belajar siswa. Hasil refleksi pada Siklus II
memberikan gambaran bahwa aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam proses
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL sudah menunjukkan hasil yang
lebih baik dari pada Siklus
I, membaiknya penguasaan kelas atau pengelolan kelas sehingga siswa dapat lebih
fokus pada materi belajar dan pengelolaan waktu dalam proses belajar sudah
lebih baik. Hasil belajar siswa juga sudah lebih baik, hal ini disebabkan siswa
senang belajar dengan menggunakan CTL yang peneliti terapkan, karena siswa
belajar dari pengalaman yang telah siswa miliki sebelumnya. Sebagaimana
pendapat Edgar Dale (Wikipedia, 2012) mengemukakan bahwa belajar yang paling
baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Selanjutnya Burton (dalam Aunurrahman, 2010:35) yang menyatakan belajar adalah
sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi
antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga
mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan pendapat
Hamalik (2009) yang menyatakan bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh
kelakuan melalui pengalaman. Lebih lanjut Hamalik (2009:30) menyatakan bahwa
bukti dan hasil dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada orang
tersebut, misal dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tidak mengerti
menjadi mengerti. Dengan demikian seseorang yang telah melakukan perbuatan
belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan dalam salah satu atau beberapa
aspek tingkah laku, pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan,
apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, sikap, etis atau budi pekerti.
V. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan
pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya mengenai pembelajaran dengan menerapkan pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) di kelas IV SD BK Tanapobunti Kecamatan Sigi
Biromaru Kabupaten Sigi, dapat
disimpulkan bahwa penerapan pendekatan CTL
yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan
dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: a) Guru
melakukan
apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran kepada
siswa, b) Guru membentuk
kelompok belajar dan memberikan masalah kontekstual melalui LKS kepada masing-masing
kelompok, c) Guru
memberikan model atau contoh soal kepada siswa dengan melibatkan siswa secara
penuh, d) Guru
memfasilitasi siswa dalam mengerjakan soal LKS, e) Guru melakukan tanya jawab untuk
mengetahui apa yang belum diketahui siswa, f) Guru
melakukan refleksi terhadap aktivitas pembelajaran yang telah berlangsung, g) Guru melakukan penilaian
melalui tes, dan h) Guru bersama siswa membuat kesimpulan terhadap pelajaran
yang telah dipelajari.
Saran
Berdasarkan hasil penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL)
dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi penjumlahan pecahan berpenyebut sama dan penjumlahan pecahan berpenyebut
tidak sama adalah
sebagai upaya inovatif dalam proses pembelajaran. Beberapa
saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian ini sebagai
berikut:
1.
Kepala Sekolah
Alangkah
lebih baik jika kepala sekolah memberikan keleluasaan dan motivasi kepada para
guru untuk selalu mencoba menerapkan pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) sebagai alternatif dalam pembelajaran di kelas.
2.
Bagi
Guru
Dalam melaksanakan pembelajaran matematika, seorang
guru sebisa mungkin memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para
siswanya untuk berlatih menemukan dan menyimpulkan sendiri suatu pokok bahasan
yang dipelajarinya. Hal ini dikarenakan kegiatan tersebut akan sangat membantu
dan mempermudah para siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Tentu saja ini tetap dibawah bimbingan guru yang
bersangkutan. Dengan demikian akan
memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan kreatifitas, daya
pikir, serta kemampuan analisisnya, sehingga mereka mampu mengkonstruksi sendiri
pengetahuan baru yang ia peroleh sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam
kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
3. Bagi Peneliti
Lain
Pembelajaran matematika
melalui penerapan CTL dengan menggunakan LKS dapat digunakan sebagai salah satu
alternatif upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa. Untuk
penelitian-penelitian berikutnya, bentuk dan isi LKS dapat dikembangkan kembali agar jauh lebih
baik dan menarik, dengan tetap memperhatikan komponen-komponen
dalam
CTL untuk kegiatan-kegiatan penemuan dan tetap menghubungkan kegiatan pembelajaran yang
berlangsung dengan pengalaman yang telah dimiliki siswa. Sehingga siswa jauh lebih antusias dalam mengikuti proses
pembelajaran, dan pada akhirnya prestasi belajar siswa yang diperoleh dapat
lebih optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
[1]Adria.
2009. Penerapan Teori Bruner Untuk
Meningkatkan Penguasaan Konsep Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Pecahan
Siswa Kelas 4 SD Alkhairaat 1 Palu. Palu: FKIP Universitas Tadulako.
[2]Anggai, Sajarwo.
2012. Teori Belajar KonstruktivistikDan
Penerapannya Dalam Pembelajaran, (Online) (http://sajarwo87.wordpress.com/2012/02/27/teori-belajar-konstruktivistik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/, diakses tgl 19 Oktober 2012).
[3]Ariani, Alamsyah, dan Dihanti. 2009. Metodologi Pembelajaran Modul KKG Bermutu.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
[4]Aunurrahman.
2010. Belajar dan Pembelajaran.
Bandung: Alfabeta.
[5]Depdiknas.
2003. Pendekatan Kontekstual.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
[6]Hamalik,
Oemar. 2009. Proses Belajar mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara.
[7]Kongah, Welina. 2011. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi
Segitiga Dengan Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Di Kelas 5 SD Imanuel Palu. Palu: FKIP Universitas Tadulako.
[8]Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
[9]Kompasiana.
2011. LKS Tetap Penting di Sekolah.
(Online), http://m.kompasiana.com/post/edukasi/2011/10/10/lks-tetap-penting-di-sekolah/ diakses
tanggal 19 Oktober 2012)
[10]Laebo, Sohra.
2011. Penerapan Penilaian Matematika
Realistik Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III Tentang Pengukuran
Panjang Di Mis Al-Muhajirin Palu. Palu: FKIP Universitas Tadulako.
[11]Mukhlis. 2012. Model Pembelajaran CTL, (Online), (http://mukhliscaniago.wordpress.com/2012/02/24/model-pembelajaran-ctl/,
diakses pada tanggal 17 Oktober 2012)
[12]Mustaqim dan
Astuty. 2008. Ayo Belajar Matematika 4:
Untuk SD dan MI Kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional.
[13]Mutma’innah.
2009. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa Pada Materi Pecahan Biasa Menggunakan Teori Bruner Di Kelas 3 Sdn Toga.
Palu: FKIP Universitas Tadulako.
[14]Priadi, Benny A. 2010. Model Desain Sistem Pembelajaran.
Jakarta: Dian Rakyat.
[15]Ridwan.
2008. Ketercapaian Pretasi Belajar,
(Online), (http://ridwan202.wordpress.com/2008/05/03/ketercapaian-prestasi-belajar/#comment-859,
diakses 17 Desember 2011).
[16]Rohidi, Tjejep R. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber Tentang
Metode-metode Baru/ Matthew B. Miles, A. Michael Huberman. UI-Press.
[17]Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
[18]Sekolah Dasar.
2011a. Implementasi Pembelajaran
Kontekstual, (Online), (http://www.sekolahdasar.net/2011/06/implementasi-pembelajaran-kontekstual.html,
diakses 17 desember 2011).
[19]Sekolah Dasar.
2011b. Prinsip Pembelajaran Kontekstual,
(Online), (http://www.sekolahdasar.net/2011/12/prinsip-pembelajaran-kontekstual.html,
diakses 17 Desember 2011).
[20]Sekolah Dasar. 2011c. Implementasi Pembelajaran Kontekstual,
(Online), (http://www.sekolahdasar.net/2011/06/implementasi-pembelajaran-kontekstual.html,
diakses 17 Desember 2011).
[21]Subarinah, Sri. 2006. Inovasi Pembelajaran Matematika Sekolah
Dasar. Jakarta: DEPDIKNAS.
[22]Susilo. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: PUSTAKA BOOK PUBLISHER.
[23]Sutawidjaja, Akbar, dkk. 1991. Pendidikan Matematika III. Jakarta:
Departemen Pendidikan Den Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Proyek
Pembinaan Tenaga Kependidikan.
[24]Tya. 2010. Teori Konstruktivisme, (Online), (http://m.kompasiana.com/post/edukasi/2010/10/06/teori-konstruktivisme/ diakses
tanggal 19 Oktober 2012)
[25]Usman H.B., dkk. Edisi 2. Pedoman Penyusunan Dan Penulisan Karya Ilmiah.
Palu: Universitas Tadulako Press.
[26]Wikipedia. 2012.
Pembelajaran, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/pembelajaran,
diakses pada tanggal 17 Oktober 2012)
[27]Yamin, Martinis. 2011. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta:
Press.
[28]Yamin, Martinis. 2009. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan
Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Langganan:
Postingan (Atom)